
Awatara
dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun
manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke
dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan
dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan
orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran.
Agama Hindu mengenal
adanya Dasa Awatara yang sangat terkenal di antara Awatara-Awatara
lainnya. Dasa Awatara adalah sepuluh Awatara yang diyakini sebagai
penjelmaan material Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari
sepuluh Awatara, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah
menyelamatkan dunia, sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir
(Kalki Awatara), masih menunggu waktu yang tepat (konon pada akhir Kali
Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Awatara tersebut terangkum dalam
sebuah kitab yang disebut Purana. Berikut 10 Awatara dari zaman ke
zaman :
1. Matsya Awatara, sang ikan, muncul saat Satya Yuga

Dalam ajaran agama Hindu, Matsya (Dewanagari
:मत्स्य; IAST:
matsya) adalah awatara Wisnu yang berwujud ikan raksasa. Dalam bahasa Sanskerta, kata
matsya sendiri
berarti ikan. Menurut mitologi Hindu, Matsya muncul pada masa
Satyayuga, pada masa pemerintahan Raja Satyabrata (lebih dikenal sebagai
Maharaja Waiwaswata Manu), putra Wiwaswan, dewa matahari. Matsya turun
ke dunia untuk memberitahu Maharaja Manu mengenai bencana air bah yang
akan melanda bumi. Ia memerintahkan Maharaja Manu untuk segera membuat
bahtera besar.
Kisah dengan tema serupa juga dapat disimak dalam
kisah Nabi Nuh, yang konon membuat bahtera besar untuk melindungi
umatnya dari bencana air bah yang melanda bumi. Kisah dengan tema yang
sama juga ditemukan di beberapa negara, seperti kisah dari penduduk asli
Amerika dan dari Yunani.
2. Kurma Awatara, sang kura-kura, muncul saat Satya Yuga

Dalam agama Hindu, Kurma (Sanskerta: कुर्म;
Kurma)
adalah awatara (penjelmaan) kedua dewa Wisnu yang berwujud kura-kura
raksasa. Awatara ini muncul pada masa Satyayuga. Menurut kitab
Adiparwa, kura-kura tersebut bernama Akupa.
Menurut berbagai kitab
Purana, Wisnu mengambil wujud seekor kura-kura (
kurma) dan mengapung di lautan susu (
Kserasagara atau
Kserarnawa).
Di dasar laut tersebut konon terdapat harta karun dan tirta amerta yang
dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para Dewa dan Asura
berlomba-lomba mendapatkannya. Untuk mangaduk laut tersebut, mereka
membutuhkan alat dan sebuah gunung yang bernama Mandara digunakan untuk
mengaduknya. Para Dewa dan para Asura mengikat gunung tersebut dengan
naga Wasuki dan memutar gunung tersebut. Kurma menopang dasar gunung
tersebut dengan tempurungnya. Dewa Indra memegang puncak gunung tersebut
agar tidak terangkat ke atas. Setelah sekian lama tirta amerta berhasil
didapat dan Dewa Wisnu mengambil alih.
Kurma juga nama dari seorang resi, putra Gretsamada.
3. Waraha Awatara, sang babi hutan, muncul saat Satya Yuga

Waraha (Sanskerta: वाराह;
Varāha)
adalah awatara (penjelmaan) ketiga dari Dewa Wisnu yang berwujud babi
hutan. Awatara ini muncul pada masa Satyayuga (zaman kebenaran). Kisah
mengenai Waraha Awatara selengkapnya terdapat di dalam kitab
Warahapurana dan
Purana-Purana lainnya.
Menurut
mitologi Hindu, pada zaman Satyayuga (zaman kebenaran), ada seorang
raksasa bernama Hiranyaksa, adik raksasa Hiranyakasipu. Keduanya
merupakan kaum Detya (raksasa). Hiranyaksa hendak menenggelamkan Pertiwi
(planet bumi) ke dalam "lautan kosmik," suatu tempat antah berantah di
ruang angkasa.
Melihat dunia akan mengalami kiamat, Wisnu menjelma
menjadi babi hutan yang memiliki dua taring panjang mencuat dengan
tujuan menopang bumi yang dijatuhkan oleh Hiranyaksa. Usaha penyelamatan
yang dilakukan Waraha tidak berlangsung lancar karena dihadang oleh
Hiranyaksa. Maka terjadilah pertempuran sengit antara raksasa Hiranyaksa
melawan Dewa Wisnu. Konon pertarungan ini terjadi ribuan tahun yang
lalu dan memakan waktu ribuan tahun pula. Pada akhirnya, Dewa Wisnu yang
menang.
Setelah Beliau memenangkan pertarungan, Beliau mengangkat
bumi yang bulat seperti bola dengan dua taringnya yang panjang mencuat,
dari lautan kosmik, dan meletakkan kembali bumi pada orbitnya. Setelah
itu, Dewa Wisnu menikahi Dewi Pertiwi dalam wujud awatara tersebut.
4. Narasimha Awatara, manusia berkepala singa, muncul saat Satya Yuga

Narasinga (Devanagari: नरसिंह ; disebut juga
Narasingh,
Nārasiṃha)
adalah awatara (inkarnasi/penjelmaan) Wisnu yang turun ke dunia,
berwujud manusia dengan kepala singa, berkuku tajam seperti pedang, dan
memiliki banyak tangan yang memegang senjata. Narasinga merupakan simbol
dewa pelindung yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam
bahaya.
Menurut kitab
Purana, pada menjelang akhir zaman
Satyayuga (zaman kebenaran), seorang raja asura (raksasa) yang bernama
Hiranyakasipu membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Wisnu, dan
dia tidak senang apabila di kerajaannya ada orang yang memuja Wisnu.
Sebab bertahun-tahun yang lalu, adiknya yang bernama Hiranyaksa dibunuh
oleh Waraha, awatara Wisnu.
Agar menjadi sakti, ia melakukan tapa
yang sangat berat, dan hanya memusatkan pikirannya pada Dewa Brahma.
Setelah Brahma berkenan untuk muncul dan menanyakan permohonannya,
Hiranyakasipu meminta agar ia diberi kehidupan abadi, tak akan bisa mati
dan tak akan bisa dibunuh. Namun Dewa Brahma menolak, dan menyuruhnya
untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta, bahwa ia
tidak akan bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun dewa, tidak bisa
dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam, tidak bisa dibunuh di
darat, air, api, ataupun udara, tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di
luar rumah, dan tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar
permohonan tersebut, Dewa Brahma mengabulkannya.
5. Wamana Awatara, sang orang cebol, muncul saat Treta Yuga

Dalam agama Hindu, Wamana (Devanagari: वामन ;
Vāmana)
adalah awatara Wisnu yang kelima, turun pada masa Tretayuga, sebagai
putra Aditi dan Kasyapa, seorang Brahmana. Ia (Wisnu) turun ke dunia
guna menegakkan kebenaran dan memberi pelajaran kepada
raja Bali (Mahabali, seorang Asura, cucu dari Prahlada. Raja Bali telah
merebut surga dari kekuasaan Dewa Indra, karena itu Wisnu turun tangan
dan menjelma ke dunia, memberi hukuman pada Raja Bali. Wamana awatara
dilukiskan sebagai Brahmana dengan raga anak kecil yang membawa payung.
Wamana Awatara merupakan penjelmaan pertama Dewa Wisnu yang mengambil
bentuk manusia lengkap, meskipun berwujud Brahmana mungil. Wamana
kadang-kadang dikenal juga dengan sebutan "Upendra."
6. Parasurama Awatara, sang Rama bersenjata kapak, muncul saat Treta Yuga

Parasurama (Dewanagari:
परशुरामभार्गव; IAST:
Parashurāma Bhārgava) atau
yang di Indonesia kadang disebut Ramaparasu, adalah nama seorang tokoh
Ciranjiwin (abadi) dalam ajaran agama Hindu. Secara harfiah, nama
Parashurama bermakna "Rama yang bersenjata kapak". Nama lainnya adalah
Bhargawa yang
bermakna "keturunan Maharesi Bregu". Ia sendiri dikenal sebagai awatara
Wisnu yang keenam dan hidup pada zaman Tretayuga. Pada zaman ini banyak
kaum kesatria yang berperang satu sama lain sehingga menyebabkan
kekacauan di dunia. Maka, Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta
lahir ke dunia sebagai seorang brahmana berwujud angker, yaitu Rama
putra Jamadagni, untuk menumpas para kesatria tersebut.
7. Rama Awatara, sang ksatria, muncul saat Treta Yuga

Dalam agama Hindu, Rama (Sanskerta: राम;
Rāma) atau Ramacandra (Sanskerta: रामचन्द्र;
Rāmacandra)
adalah seorang raja legendaris yang terkenal dari India yang konon
hidup pada zaman Tretayuga, keturunan Dinasti Surya atau Suryawangsa. Ia
berasal dari Kerajaan Kosala yang beribukota Ayodhya. Menurut pandangan
Hindu, ia merupakan awatara Dewa Wisnu yang ketujuh yang turun ke bumi
pada zaman Tretayuga. Sosok dan kisah kepahlawanannya yang terkenal
dituturkan dalam sebuah sastra Hindu Kuno yang disebut
Ramayana,
tersebar dari Asia Selatan sampai Asia Tenggara. Terlahir sebagai putera
sulung dari pasangan Raja Dasarata dengan Kosalya, ia dipandang
sebagai
Maryada Purushottama, yang artinya "Manusia Sempurna".
Setelah dewasa, Rama memenangkan sayembara dan beristerikan Dewi Sita,
inkarnasi dari Dewi Laksmi. Rama memiliki anak kembar, yaitu Kusa dan
Lawa.
8. Kresna Awatara, putra Wasudewa, muncul saat Dwapara Yuga

Kresna (Dewanagari:
कृष्ण; IAST:
kṛṣṇa; dibaca
[ˈkr̩ʂɳə]) adalah
salah satu dewa yang dipuja oleh umat Hindu, berwujud pria berkulit
gelap atau biru tua, memakai dhoti kuning dan mahkota yang dihiasi bulu
merak. Dalam seni lukis dan arca, umumnya ia digambarkan sedang bermain
seruling sambil berdiri dengan kaki yang ditekuk ke samping. Legenda
Hindu dalam kitab
Purana dan
Mahabharata menyatakan bahwa
ia adalah putra kedelapan Basudewa dan Dewaki, bangsawan dari kerajaan
Surasena, kerajaan mitologis di India Utara. Secara umum, ia dipuja
sebagai awatara (inkarnasi) Dewa Wisnu kedelapan di antara sepuluh
awatara Wisnu. Dalam beberapa tradisi perguruan Hindu, misalnya Gaudiy
Waisnawa, ia dianggap sebagai manifestasi dari kebenaran mutlak, atau
perwujudan Tuhan itu sendiri, dan dalam tafsiran kitab-kitab yang
mengatasnamakan Wisnu atau Kresna, misalnya
Bhagawatapurana, ia dimuliakan sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dalam
Bhagawatapurana, ia digambarkan sebagai sosok penggembala muda yang mahir bermain seruling, sedangkan dalam wiracarita
Mahabharata ia
dikenal sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, sakti, dan berwibawa.
Selain itu ia dikenal pula sebagai tokoh yang memberikan ajaran
filosofis, dan umat Hindu meyakini
Bhagawadgita sebagai kitab yang memuat kotbah Kresna kepada Arjuna tentang ilmu rohani.
9. Buddha Awatara, pangeran Siddharta Gautama, muncul saat Kali Yuga

Dalam agama Hindu, Gautama Buddha muncul dalam kitab
Purana (Susastra Hindu) sebagai awatara (inkarnasi) kesembilan di antara sepuluh awatara (Dasawatara) Dewa Wisnu. Dalam
Bhagawatapurana, Beliau disebut sebagai awatara kedua puluh empat di antara dua puluh lima awatara Wisnu. Kata
buddha berarti
"Dia yang mendapat pencerahan" dan dapat mengacu kepada Buddha lainnya
selain Gautama Buddha, pendiri Buddhisme yang dikenal pada masa
sekarang.
Berbeda dengan ajaran Hindu, ajaran Gautama Buddha tidak
menekankan keberadaan "Tuhan sang Pencipta" sehingga agama Buddha
termasuk bagian dari salah satu aliran
nāstika (heterodoks;
secara harfiah berarti "Itu tidak ada") menurut aliran-aliran agama
Dharma lainnya, seperti Dwaita. Namun beberapa aliran lainnya, seperti
Adwaita,sangat mirip dengan ajaran Buddhisme, baik bentuk maupun
filsafatnya
10. Kalki Awatara, sang pemusnah, muncul saat Kali Yuga

Dalam ajaran agama Hindu, Kalki (Dewanagari:
कल्कि; IAST:
Kalki; juga
ditulis sebagai Kalkin dan Kalaki) adalah awatara Wisnu kesepuluh
sekaligus yang terakhir, yang akan datang pada akhir zaman Kaliyuga
(zaman kegelapan dan kehancuran) saat ini. Nama kalki seringkali dipakai
sebagai metafora untuk kekekalan dan waktu. Berbagai tradisi memiliki
berbagai kepercayaan dan pemikiran mengenai kapan, bagaimana, di mana,
dan mengapa Kalki muncul. Penggambaran yang umum mengenai Kalki yaitu
Beliau adalah awatara yang mengendarai kuda putih (beberapa sumber
mengatakan nama kudanya
Devadatta [anugerah Dewa] dan dilukiskan
sebagai kuda bersayap). Kalki memiliki pedang berkilat yang digunakan
untuk memusnahkan kejahatan dan menghancurkan iblis Kali kemudian
menegakkan kembali dharma dan memulai zaman yang baru.
Awatara lainnya:Catursana
Catursana atau Caturkumara adalah empat putra Brahma dalam kitab-kitab
Purana dalam agama Hindu, yang terdiri dari Sanaka, Sanatana, Sanandana dan Sanatkumara.
Mereka
lahir dari pikiran Brahma. Mereka merupakan empat resi (orang suci)
yang bersumpah untuk membujang selamanya (brahmacarya), bertentangan
dengan kehendak ayah mereka.
Kitab
Bhagawatapurana memasukkan Catursana ke dalam daftar dua belas
Mahajana (pemuja
terbesar atau bhakta) yang meskipun jiwanya sudah bebas dan kekal
semenjak lahir, masih melakukan pelayanan kepada Wisnu dari keadaan
mereka yang sudah tercerahkan. Meskipun usia mereka sudah tua, legenda
mengatakan bahwa mereka berkelana di alam semesta dalam wujud anak
kecil. Mereka memegang sejumlah peran penting dalam tradisi spiritual
Hindu, khususnya yang berhubungan dengan pemujaan Kresna dan Wisnu.
Narada
Narada (Dewanagari:
नारद; IAST:
Nārada) atau Narada Muni adalah seseorang yang bijaksana dalam tradisi Hindu, yang memegang peranan penting dalam kisah-kisah
Purana, khususnya
Bhagawatapurana.
Narada digambarkan sebagai pendeta yang suka mengembara dan memiliki
kemampuan untuk mengunjungi planet-planet dan dunia yang jauh. Ia selalu
membawa alat musik yang dikenal sebagai tambura, yang pada mulanya
dipakai oleh Narada untuk mengantarkan lagu pujian, doa-doa, dan
mantra-mantra sebagai rasa bakti terhadap Dewa Wisnu atau Kresna. Dalam
tradisi Waisnawa ia memiliki rasa hormat yang istimewa dalam menyanyikan
nama
Hari dan
Narayana dan proses pelayanan didasari rasa bakti yang diperlihatkannya, dikenal sebagai
bhakti yoga seperti yang dijelaskan dalam kitab yang merujuk kepadanya, yang dikenal sebagai
Narad Bhakti Sutra.Nara dan Narayana
Nara dan Narayana (Dewanagari:
नर-नारायण; IAST:
Nara-Nārāyaṇa) adalah
sepasang dewa Hindu. Nara dan Narayana merupakan saudara kembar
penjelmaan (awatara) Dewa Wisnu di bumi, bertugas sebagai penegak dharma
atau kebenaran. Dalam konsep Nara dan Narayana, jiwa manusia Nara
adalah pasangan yang kekal dengan Narayana Yang Mahasuci.
Wiracarita Hindu
Mahabharata menyatakan
Kresna sebagai Narayana sedangkan Arjuna - pahlawan dalam wiracarita
tersebut - sebagai Nara. Legenda Nara dan Narayana juga diceritakan
dalam kiab
Bhagawatapurana. Umat Hindu percaya bahwa mereka tinggal di Badrinath, di mana kuil terpenting mereka berdiri di sana.
Pasangan
Nara dan Narayana biasanya dipuja di kuil-kuil aliran Swaminarayan.
Pengikut sekte tersebut percaya bahwa pendiri aliran tersebut
(Swaminarayanan) adalah inkarnasi Narayana.
KapilaKapila (Dewanagari:
कपिल ऋषि; IAST:
Kapila ṛṣi) adalah orang
suci Hindu yang dipercaya sebagai salah satu pendiri aliran
filsafat Samkhya. Ia memiliki peran penting dalam kitab
Bhagawatapurana,
yang menampilkan versi teismedalam ajaran filsafat Samkhya. Cerita
tradisional Hindu menyatakan bahwa ia merupakan keturunan Manu,
cucuBrahma. Kitab
Bhagawadgita menggambarkan Kapila sebagai yogi pertapa dengan
siddhi, atau kekuatan spiritual, yang sangat tinggi.
Banyak detail tentang kehidupan Resi Kapila diceritakan dalam Buku 3 kitab
Bhagawatapurana,
di mana disebutkan bahwa orang tua beliau adalah Kardama
Muni dan Dewahuti. Setelah ayahnya meninggalkan rumah, Kapila mengajari
ibunya, Dewahuti tentang filsafat yoga dan pemujaan yang taat
kepada Wisnu, sehingga Dewahuti mampu mencapai kebebasan (moksa). Ajaran
Samkhya Kapila juga dituturkan oleh Kresna kepada Udawa dalam Buku 11
kitab
Bhagawatapurana, bagian tersebut juga dikenal sebagai "Uddhawagita".
Dattatreya
Menurut kepercayaan umat Hindu, Dattatreya (Sanskerta: दत्तात्रेय;
Dattātréya)
adalah seorang dewa yang merupakan penjelmaan dari Trimurti (tiga dewa
utama), yaitu Brahma, Wisnu dan Siwa. Dattatreya lahir sebagai putera
Resi Atri dan Anasuya. Nama Dattatreya berasal dari kata
datta dan
atreya. Kata
datta berarti "diberi", oleh karena Trimurti telah memberikan perwujudan sebagai putera Atri dan Anasuya. Kata
atreya secara harfiah berarti "putra Atri".
Dalam
tradisi Natha, Dattatreya dianggap sebagai awatara atau inkarnasi dari
Dewa Siwa dan sebagai Adi-Guru (guru pertama) dalam tradisi Adinath
Sampradaya. Di India, Dattatreya dipuja oleh berjuta-juta umat Hindu dan
berbagai tradisi dilakukan untuk memuliakannya.
Yadnya
Yadnya (Dewanagari:
यज्ञ; IAST:
Yajña) atau
Yadnyeswara ("Penguasa Yadnya") adalah salah satu awatara (inkarnasi)
Wisnu dalam agama Hindu. Ia adalah penguasa seluruh upacara dalam agama
Hindu (yadnya). Ia menjabat sebagai Indra pada Manwantara pertama, era
Swayambu Manu.
Resaba
Dalam agama Hindu, Resaba (Sanskerta: ऋसभ;
Ṛṣabha) adalah salah satu awatara Wisnu yang disebut dalam
Purana. Menurut kitab
Purana, ia merupakan putra Nabi dan Maru, dan merupakan keturunan langsung dari Swayambu Manu, manusia pertama di dunia.
Resaba
memiliki istri bernama Jayanti, putri Dewa Indra, dan menurunkan
seratus putra. Putranya yang tertua bernama Barata. Sebagai awatara
Wisnu, Resaba mengajarkan ilmu meditasi yang terbaik, bahkan ia
mengajarkannya kepada orang yang sudah ahli dalam bidang meditasi. Ia
juga mengajarkan ilmu cara memimpin rakyat dan kebijaksanaan kepada para
putranya agar mereka tidak terjerat oleh ilusi dunia. Setelah Resaba
wafat, Barata menggantikannya.
Pertu
Dalam ajaran agama Hindu, Pertu (Sanskerta: पृथु ;
Pṛ(ri)thu)
adalah salah satu awatara Wisnu Ia merupakan putra Wena. Ia menjadi
suami Arcisa, dan bapak bagi Wijitaswa, Haryaksa, Dumrakesa, Wreka dan
Drawina. Menurut legenda, Pertu dikenal sebagai raja yang agung dan
bijaksana. Kejayaannya seperti Bharata. Kisahnya muncul dalam beberapa
kitab
Purana, seperti misalnya
Brahmapurana,
Matsyapurana, dsb.
Dhanwantari
Dhanwantari (Dewanagari: धन्वंतरी; IAST: Dhanvantari) adalah seorang awatara Wisnu menurut kepercayaan Hindu. Dia muncul dalam kitab Weda dan Purana sebagai tabib para dewa, dan ahli pengobatan menurut Ayurweda.
Merupakan tradisi dalam agama Hindu untuk memuja Dhanwantari demi
meperoleh kesehatan bagi diri sendiri maupun orang lain. Sastra Hindu,
seperti misalnya Purana mengatakan bahwa Dhanwantari muncul dari lautan susu saat para dewa dan asura mencari tirta amerta.
Menurut mitologi Hindu, Dhanwantari merupakan tabib/dokter India yang
pertama dan salah satu dokter bedah pertama di dunia. Dia melakukan
penyembuhan secara alami dengan sempurna dan dipercaya telah menemukan
obat antiseptik dan obat pencegahan berbahan garam yang ia sertakan
ketika menyembuhkan seseorang.
Mohini
Menurut kepercayaan Hindu, Mohini (Dewanagari:
मोहिनी; IAST:
Mohinī) adalah salah satu inkarnasi atau awatara Wisnu yang disebutkan dalam kitab
Purana.
Mohini berwujud gadis cantik. Dalam mitologi Hindu, Mohini muncul saat
kisah pengadukan samudra susu. Dalam bahasa Sanskerta, kata
Mohini secara harfiah bisa berarti "bunga melati".
Byasa
Byasa (Sanskerta: व्यास;
Vyāsa) (dalam pewayangan disebut Resi Abiyasa) adalah figur penting dalam agama Hindu. Ia juga bergelar
Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai
Weda). Ia juga dikenal dengan nama Krishna Dwaipayana. Ia adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu
Mahabharata. Sebagian riwayat hidupnya diceritakan dalam
Mahabharata.
Hayagriwa
Dalam agama Hindu, Hayagriwa (Dewanagari:
हयग्रीव; IAST:
Hayagrīva) adalah
awatara Wisnu yang berwujud manusia berkepala kuda. Dia disembah
sebagai dewa pengetahuan dan kebijaksanaan, dengan tubuh manusia dan
kepala kuda, berwarna putih cemerlang, dengan pakaian putih dan duduk di
bunga teratai putih. Secara simbolis, mitos tersebut menggambarkan
keunggulan pengetahuan sejati, yang dipandu oleh tangan Tuhan, mengatasi
kekuatan negatif yang mengandung nafsu dan kegelapan.
Hayagriwa
adalah dewa yang sangat penting dalam tradisi Waisnawa. Anugerah-Nya
dicari ketika mengawali pembelajaran ilmu suci maupun ilmu sekuler.
Ibadah khusus dilakukan pada hari bulan purnama di bulan Agustus (
Srawana-paurnami) dan pada
Mahanawami, hari kesembilan festival
Navaratri. Ia juga dipuji sebagai "Hayasirsa", yang berarti "berkepala kuda".
PresnigarbaPresnigarba (Dewanagari:
पृष्निगर्भ; IAST:
Pṛṣṇigarbha) adalah
salah satu awatara (inkarnasi) Wisnu dalam agama Hindu. Ia merupakan
putra Presni dan Sutapa. Awatara ini muncul di hadapan Druwa yang sedang
bertapa. Ia menciptakan lapisan dunia yang disebut Druwaloka.
Angsa
Dalam agama Hindu, Angsa (Dewanagari:
हंस; IAST:
haṃsa) adalah salah satu awatara (inkarnasi) Wisnu yang disebut dalam kitab
Bhagawatapurana.
Angsa merupakan salah satu awatara yang muncul pada zaman Satyayuga
atau zaman kebajikan. Angsa muncul sebagai awatara berwujud angsa yang
memberi pengetahuan suci kepada Dewa Brahma dan para putra Beliau
(Catursana).